Pakar Arsitektur Kota dan Ahli Tata Ruang Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang, Ir Budi Fathony MTA. (Foto: Ima/MalangTIMES)
Pakar Arsitektur Kota dan Ahli Tata Ruang Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang, Ir Budi Fathony MTA. (Foto: Ima/MalangTIMES)

Tingkat keparahan pelanggaran tata ruang di Kota Malang hingga menyebabkan banjir di banyak titik tiap kali hujan deras kini sudah sebesar 20 persen. Keluhan-keluhan akan banjir dari masyarakat pun kerap keras terlontar, khususnya di media sosial.

Nah, untuk menyelamatkan Kota Malang dari banjir ini setidaknya ada beberapa tindakan utama yang bisa dilakukan.

Pakar Arsitektur Kota dan Ahli Tata Ruang Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang, Ir Budi Fathony MTA menyatakan, paling tidak, Kota Malang harus membuat lubang resapan biopori dan sumur.

"Paling tidak harus biopori," kata Budi.

"Akan tetapi, biopori sebetulnya hanya berapa persen. Artinya ada sumur-sumur lah," sambungnya.

Seperti yang diketahui, biopori dan sumur resapan adalah dua cara kita untuk mengolah air hujan agar dapat meresap ke dalam tanah, khususnya di area perkotaan.

Tindakan selanjutnya yakni pemerintah kota harus mengevaluasi sistem drainase.

"Sistem drainase utilitasnya itu sudah tidak pernah dilihat dievaluasi setiap lima tahun sekali. Ini yang nenjadi masalah dan ini terus bermasalah," ungkapnya.

Selain itu, masyarakat, khususnya PKL perlu diberikan edukasi. Sebab, kebiasaan PKL membuang limbah di selokan juga memberikan dampak banjir.

"Pada saat musim kemarau ini perilaku PKL, terutama yang kuliner malam hari itu limbahnya dibuang di selokan pada saat musim kemarau. Ketika musim kemarau itu limbahnya mengeras kan campuran bumbu dan segalanya," bebernya.

Nah, tindakan-tindakan edukasi tersebut harus segera dilakukan pemerintah. Terutama, tatkala kini titik-titik banjir sudah terlihat di beberapa wilayah.

"Artinya ketika musim hujan yang sekarang ini kan sudah kelihatan titiknya, itu yang harus segera dilakukan recovery atau dilakukan tindakan. Jangan sampai nanti pada saat musim hujan lagi muncul lagi. Ini yang selalu dan selalu. Sehingga bisa Malang itu menjadi kota banjir," tegasnya.

Patut disayangkan, yang kerap dilakukan pemerintah saat ini hanya sebatas diskusi forum saja. Padahal, kata Budi, pemerintah harus membentuk tim aplikatif. Dalam hal ini, perguruan tinggi siap untuk membantu.

"Perguruan tinggi itu mau tapi nggak pernah diajak. Diajak hanya sekedar diskusi di forum, ya nggak bisa. Bentuk tim aplikatif," tegasnya.

Seharusnya, katanya, pemerintah, akademisi, dan dunia usaha saling bersinergi untuk mengatasi persoalan ini. Dari akademisi sendiri siap membantu pemerintah.

"Wong itu program pengabdian masyarakat, nggak ada biaya, nggak ada kompensasi apa-apa," imbuhnya.

"Gampang kok enggak susah. Cuman terlalu banyak ngobrolnya di forum. Saya yakin kok teman-teman kampus siap. Jadi sekarang sudah jangan hanya sekedar diskusi forum," tandasnya kemudian.

Sementara itu, Pemerintah Kota (Pemkot) Malang telah memetakan Peta Zonasi Drainase dan Sumur Injeksi di setiap wilayah kecamatan dan kelurahan. Seperti yang diberitakan MalangTIMES.com, Selasa (11/2/2020) lalu, gerakan pembuatan sumur injeksi dimulai di area Kecamatan Blimbing.